This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
22 Mei, 2010
25 Maret, 2010
Kunci Gembira
Kisah Ho yang mencari Kunci bagaimana untuk hidup gembira.
Pertama, ia bertemu gembala kerbau yang gembira meniup seruling.
Ho :”Gembala, apakah kamu gembira?”
Gembala :”Tentu aku gembira, karena masih bisa duduk di punggung kerbau dan memainkan seruling.”
Ho belajar naik kerbau dan meniup seruling, tapi setelah mahir ia merasa bukan itu yang ia mau, jadi ia melanjutkan jalan. Kemudian ia bertemu kakek pemancing di tepi Sungai.
Ho :“ Kakek tenang memancing? Pasti hidup kakek gembira ya?”
Kakek :”Iya anak muda, memang kakek gembira”
Ho lalu belajar memancing. Memancing juga bukan kegembiraan yang ia cari, maka ia jalan lagi. Lalu, ia bertemu orang bermain catur.
Pemuda : “saya melihat kalian berdua tenang dan gembira bermain catur. Pasti kalian orang yangberhasil ! Saya ingin belajar catur agar gembira seperti kalian.”
Pecatur :” Kalau mau gembira, kamu harus mendaki gunung Batu lalu temui Bhiksu yang berada di puncak ”.
Maka susah payah Ho mendaki gunung dan berhasil menemui Bhiksu Wen di puncak.
Ho : “Suhu, aku datang dari jauh, mencari Kunci Gembira, karena ingin hidupku berhasil dan bahagia”
Bhiksu :” Apa kamu sekarang sedang dikunci orang lain? Mengapa kamu mencari Kunci Gembira?Apa ada yang menguncimu?”
Ho :“ Tidak, Suhu.”
Bhiksu : “Baiklah, suhu jelaskan ada sabda Hyang Buddha untuk hidup gembira, ia harus bisa menolong diri sendiri. Bertekad dalam batin, jalankan kewajiban dengan senang hati dan sebaik-baiknya. Kunci gembira bisa terwujud dengan 5 perhatian:
1. Jangan berkumpul dengan orang batinnya buruk.
2. Jalankan kewajiban dengan baik dan gembira.
3. Menuntut ilmu dan belajar mengendalikan batin.
4. Ringan tangan membantu orang lain, jangan memisahkan diri dari kehidupan duniawi, lihat kondisi dulu , sekarang dan akan datang
5. Rajin sembahyang, jadi manusia berguna.
Maka, hanya dirimu sendiri yang bisa menolong “
Dengan gembira Ho kembali ke kota kelahirannya dan 5 Kunci sukses dari Hyang Buddha dijalankan, akhirnya ia menjadi Walikota.
24 Maret, 2010
photoshop

05 Desember, 2009
keberhasilan

Tidak ada keberhasilan yang jatuh dari langit, semua itu harus diperjuangkan dan diusahakan. Jika kita tahu bahwa kesuksesan itu harus diperjuangkan, maka dalam kehidupan ini kita harus mampu berjuang untuk mencapai kesuksesan.”
Pernahkah Anda melihat bagaimana bunga teratai tumbuh di kolam? Daunnya melebar di atas air, kemudian bunganya tumbuh di pucuk dan akhirnya mekar. Kalau kita perhatikan sekilas bunga teratai ini seakan-akan tumbuh di atas air. Tetapi, kalau kita amati lebih dalam, di bawah air adalah lumpur, berarti teratai ini tumbuh dari lumpur dan air. Dengan tanah yang demikian kotor dan busuk, namun bunga teratai itu bisa mekar, bisa tumbuh dengan baik dan subur. Kalau kita renungkan, kehidupan kita juga sama seperti bunga teratai itu. Suatu ketika kita pasti pernah mengalami jatuh ke lumpur, ke kekotoran atau ke kegagalan. Hal itu terkadang membuat kita menjadi tidak bersemangat. Kalau kita membayangkan teratai tadi yang kemudian hanya mengeluh, kenapa saya jatuh di lumpur? Kenapa tidak jatuh ditanah yang subur? Kenapa saya tidak jatuh di tanah yang kering, tidak becek, dan tidak berakhir seperti sekarang? Kalau teratai itu hanya bisa mengeluh dan mengeluh, teratai itu selamanya tidak akan pernah tumbuh. Tetapi teratai tadi, ketika benihnya jatuh ke lumpur, dia justru menggunakan lumpur itu sebagai medianya untuk tumbuh. Dia tidak hanya tidak ingin pergi dari lumpur itu, tetapi dia menggunakan lumpur itu untuk tumbuh, besar dan berkembang.
Ketika seseorang jatuh ke dalam situasi yang tidak nyaman, seperti ke dalam keluarga yang tidak nyaman, terkadang kita ingin menyingkirkan ketidaknyamanan itu. Sebagai contoh, saat kita masih anak-anak, terkadang kita malas untuk pergi ke sekolah, namun orang tua kita marah-marah dan memaksa kita untuk masuk sekolah. Tentunya dengan perasaan yang sudah tidak enak, kita kemudian mengatakan kepada orang tua kita “Mama tidak seperti tetangga, mamanya teman saya kalau anaknya bolos boleh, kenapa saya tidak!” Lalu kemudian berpikir bahwa orang tua kita tidak baik dan kita ingin menukarnya dengan yang lebih baik, yang bisa memberikan ijin bolos dan lain sebagainya. Suatu kita kecil, kita pernah mengalami hal seperti itu, ingin menukar kondisi-kondisi yang ada. Seperti benih teratai yang sudah jatuh ke dalam lumpur lalu ingin lompat dan keluar dari habitatnya. Lalu ketika kita tumbuh besar, kita juga mengalami hal yang sama dalam berpacaran. Terkadang kita membandingkan pacar kita, baik dengan pacar orang lain ataupun pacar kita yang terdahulu. Kita kepingin tukar dan keluar dari habitat kita. Sama juga halnya ketika dewasa lalu bekerja, kita pun tak lepas dari berkeluh kesah dan membanding-bandingkan dengan tempat kerja yang lain. Misalnya, tempat kerja kita liburnya tidak banyak seperti kantor lain, atau gajinya kecil tak seperti kantor lain dan mungkin bosnya galak tak seperti kantor sebelah yang bosnya baik. Namun jarang kita berkeluh kesah jika pekerjaan kita lebih ringan dibanding tempat kerja lain. Semuanya selalu dilihat yang enak-enak saja. Kemudian di rumah tangga, punya pasangan hidup juga begitu. Terkadang ada dari kita yang membandingkan istrinya yang sudah tidak cantik lagi karena sudah beranak tiga dengan tetangga yang masih cantik dan belum punya anak. Lalu berpikir untuk memiliki tetangga tersebut atau menukar dengan istrinya. Kita punya pola-pola seperti itu.








